Sabtu, 03 Mei 2014

TARI MODUAI


Tari Moduai merupakan tarian yang berasal dari kabupaten tolitoli sulawesi tengah, tarian ini di gunakan pada acara-acara penyambutan tamu yg berkunjung ke kabupaten tolitoli.

Pada zaman kerajaan dikabupaten tolitoli, tari ini sering di gunakan untuk menyambut para tamu-tamu kerajaan yang berkunjung ke tolitoli.
Pada prosesi penyambutan tamu di dahului dengan tarian MARAGAI (pencak silat) kemudian di sambut oleh salah seorang keluarga dari pihak kerajaan dengan menggunakan seutas kain yang di buat menyerupai tali yang di sebut dengan UDA-UDA, tali tersebut di berikan ketangan tamu tersebut lalu di bawah memasuki ruangan dan di sambut dengan tarian moduai.
Sampai sekarang tarian tersebut masi digunakan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah daerah kabupaten tolitoli untuk menyambut tamu daerah atau pada acara-acara pesta perkawinan untuk menyambut mempelai pria.
Tari ini di iringi dengan menggunakan beberapa alat musik tradisional seperti Gendang atau gagandang, kulintang atau gulintang, Gong atau Pamandi.
 
 

TARI BOSARA


GambarTari Bosara adalah tarian yang mengambarkan bahwa orang bugis jika
kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran
dan kehormatan. Pada zaman dahulu tarian ini sering ditarikan untuk menjamu raja, menyambut tamu agung, pesta adat, dan pesta perkawinan. Gerakan tarian ini sangat luwes sehingga enak untuk dilihat.
Bosara sendiri merupakan piring khas suku bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Bahan dasar bosara berasal dari besi dan dilengkapi dengan penutup khas seperti kobokan besar, yang dibalut kain berwarna terang, seperti warna merah, biru, hijau atau kuning, yang diberi ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Bosara biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khususnya acara yang bersifat tradisional dan sarat dengan nilai-nilai budaya.
Selain digunakan sebagai salah satu alat yang digunakan para penari tarian daerah, bosara juga biasanya menjadi tempat sajian aneka kue tradisional yang diletakkan di meja pada acara resmi pemerintahan sebagai simbol adat Sulsel, khususnya pada acara-acara sakral seperti pesta pernikahan adat.
Bosara yang digunakan sebagai wadah kue tradisional maupun lauk, dijejer rapih di atas meja berkaki pendek, biasanya disebut meja Oshin. Untuk melengkapi sajian dalam wadah bosara itu, diletakkan baki kecil yang di atasnya dilapisi kain yang berwarna mirip dengan warna bosara dan meja. Di atas baki kecil tersebut, diletakkan alas dan piring ceper berukuran kecil yang digunakan untuk meletakkan kue tradisional yang diambil dari bosara, kemudian cangkir untuk minuman teh serta tutupnya, ditambah gelas untuk air putih.
Oleh karena itu, tidak heran jika setiap pesta pernikahan adat bugis-Makassar sangat lekat dengan bosara, bahkan ini mentradisi hingga sekarang.


 http://ahmadesyauqi.wordpress.com/2012/11/10/tari-bosara/

TARI MAENGKET




   Maengket adalah paduan dari sekaligus seni tari, musik dan nyanyi, serta seni sastra yang terukir dalam lirik lagu yang dilantunkan. Sejumlah pengamat kesenian bahkan
melihat maengket sebagai satu bentuk khas sendratari berpadu opera. Apapun, maengket memang merupakan sebuah adikarya kebudayaan puncak yang tercipta melalui proses panjang penyempurnaan demi penyempurnaan.

   Maengket sudah ada di tanah Minahasa sejak rakyat Minahasa mengenal pertanian terutama menanam padi di ladang. Kalau dulu nenek moyang Minahasa,
maengket hanya dimainkan pada waktu panen padi dengan gerakan-gerakan yang hanya sederhana, maka sekarang tarian maengket telah berkembang teristimewa bentuk dan tarinya tanpa meninggalkan keasliannya terutama syair/sastra lagunya.

Maengket terdiri dari 3 babak, yaitu :
- Maowey Kamberu
- Marambak - Lalayaan.
Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acara pengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasil pertanian terutama tanaman padi yang berlipat ganda/banyak. Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan (mapalus), rakyat Minahasa bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa daerah disebut “rumambak” atau menguji kekuatan rumah baru dan semua masyarakat kampung diundang dalam pengucapan syukur. Lalayaan adalah tari yang dilakukan saat bulan purnama Mahatambulelenen, para muda-mudi melangsungkan acara Makaria’an-mencari teman hidup.

 http://maengket.blogspot.com/2012/03/tari-maengket.html

Jumat, 02 Mei 2014

TARI POLO PALO

tari polopalo

Tari polo – palo merupakan salah satu seni tari yang berasal dari Gorontalo, Sulawesi Utara. Tarian ini merupakan tarian pergaulan yang biasa dipentaskan oleh para remaja Gorontalo.
Pada perkembangannya, tari polo – palo terbagi menjadi dua jenis, yaitu tari palo – palo tradisional dan tari palo – palo modern. Di mana kedua jenis ini memiliki perbedaan yang terlihat jelas.
Misalnya jumlah penarinya. Tari polo – palo tradisional biasanya dimainkan oleh penari tunggal yang diringi oleh musik yang dimainkan sendiri atau solo.
       
      Sedangkan tari polo-palo modern lebih sering ditampilkan secara berkelompok dengan iringan musik yang sudah diaransemen.
Pada tari polo-palo tradisional pemukul tidak hanya dimainkan dengan cara memukulkannya pada alat musik tetapi juga pada bagian anggota penari khususnya lutut dengan irama yang beraturan.
Sedangkan pada tari polo-palo modern, pemukul hanya dipukulkan pada alat musiknya, tidak pada bagian tubuh.
       Namun tak dapat dipungkiri pada tari polo-palo modern, para pemain musik lebih mengandalkan ritme musik yang lebih berkualitas. Hal inilah yang akhirnya menutut para pemain musik pada tari polo-palo untuk lebih mengembangkan kemampuan bermusik mereka agar bisa menghasilkan musik yang indah.
Perbedaan dari kedua jenis tari polo-palo juga terlihat dari bentuk alat musik polo-palo yang menyerupai bentuk garpu tala. Dalam membuat alat musik tari polo-palo tradisional tidak dilengkapi dengang proses penyetaman, sedangkan pada alat musik polo-palo modern dilengkapi proses tersebut dengna cara meraut bagian lidah polo-palo secara bertahap.
        Pada polo-palo modern biasanya tidak lagi ditambah lubang untuk membedakan warna bunyi. Tidak seperti alat musik untuk polo – palo tradisional yang masih memakai lubang tersebut.

      

 http://tariandunia.blogspot.com/

TARI PAYUNG



Tari Payung adalah tari tradisional dari Sumatra Barat. Tarian ini membawakan cerita tentang hubungan asmara di antara muda-mudi. Payung menjadi atribut penting dalam tarian ini, sebagai perlambang penyatuan tujuan dua insan menuju kebahagiaan cinta. Hingga hari ini, Tari Payung masih lestari di tengah masyarakat Minangkabau, bahkan berkembang dengan variasi-variasi baru.                   
Tari payung dibawakan oleh para penari yang jumlahnya genap, di mana mereka berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Para penari laki-laki datang menghampiri pasangan mereka masing-masing dengan payung terkembang, yang bermakna bahwa dia siap untuk membawa dan melindungi Sang Perempuan menuju kebahagiaan mahligai rumah tangga. Sementara Sang Perempuan dengan selendangnya menyambut Sang Lelaki sebagai jawaban, bahwa bersama Sang Lelaki, dia siap mengarungi jalan jalan cinta mereka.
Selaras dengan tema cerita yang dibawakan, koreografi Tari Payung mengeksplorasi interaksi antara penari laki-laki dan perempuan. Lagu yang menjadi pakem dalam tarian ini berjudul Berbendi-bendi ke Sungai Tanang, yang bercerita tentang suasana bulan madu sepasang suami-istri di Sungai Tanang. Lagu tersebut dibawakan dengan hantaran musik yang dimulai dengan tempo lambat, lebih cepat, hingga sangat cepat.
Berikut adalah petikan dari lagu tersebut:
Berbendi-bendi ke Sungai Tanang
Babendi-bendi
Babendi..bendi
Ka sungai tanang
Aduhai sayang (2x)
Singgahlah mamatiak..singgahlah mamatiak
Bunga lembayung (2x)
Hati siapo..indak ka sanang aduhai sayang..(2x)
Mailek rang mudo..mailek rang mudo manari payung..(2x)
Hati siapo..hati siapo..indak ka sanang aduhai sayang..(2x)
Mailek si nona..mailek si nona manari payung..(2x)

Berbendi-bendi
Berbendi-bendi
Ke sungai tenang..aduhai sayang (2x)
Singgahlah memetik..singgahlah memetik bunga lembayung
Hati siapa..hati siapa tidaklah senang aduhai sayang (2x)
Melihat orang muda..melihat orang muda menari payung..
Hati siapa tidaklah senang aduhai sayang (2x)
Melihat si nona..melihat si nona..menari payung(2x)
Dewasa ini, bermunculan berbagai kreasi baru atas Tari Payung. Kehadiran sentuhan-sentuhan baru tersebut tentu saja membuat Tari Payung semakin segar untuk diapresiasi. Namun demikian, hal tersebut bukannya tanpa persoalan. Ada saja sejumlah praktisi Tari Payung yang tidak sepakat dengan ide-ide untuk membarukan tarian yang dianggap sarat dengan nilai-nilai tradisi tersebut. 



TARI PIRING

Pada awalnya, Tari Piring ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan di dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.
Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.


Di Malaysia , tarian piring dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga berada, bangsawan dan hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat di kawasan Seremban, Kuala Pilah dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tarian tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput kumpulan tarian ini mempersembahkan tarian piring. 10 - 20 menit diperuntukkan untuk persembahan tarian ini.


 
Tarian piring dan silat dipersembahkan di hadapan mempelai di luar rumah. Majelis perkawinan atau sesuatu apa-apa majlis akan lebih meriah jika diadakan tarian piring. Namun begitu, segelintir masyarakat tidak dapat menerima kehadiran kumpulan tarian kerana dianggap ada percampuran lelaki dan perempuan. Bagi mengatasi masalah itu, kumpulan tarian disertai hanya gadis-gadis sahaja.
Kira-kira 8 (delapan) abad yang lalu, Tari Piring telah ada di wilayah kehulauan Melayu. Tari Piring identik dengan Sumatera Barat. Hingga masa kerajaan Sri Vilaya, eksistensinya masih ada bahkan semakin mentradisi. Pada saat masa-masa kejayaan kerajaan Majapahitlah, tepatnya abad ke-16, kerajaan Sri Vijaya dipaksa jatuh.
Namun demikian, Tari Piring tidak lantas ikut lenyap. Bahkan, Tari Piring mengalami perkembangan ke wilayah-wilayah Melayu lain seiring hengkangnya pengagum setia Sri Vijaya. Bergantinya pelaku peradaban memaksa adanya perubahan konsep, orientasi dan nilai pada Tari Piring.
Pada awalnya Tari Piring diperuntukkan buat sesembahan para dewa, dibarengi dengan penyediaan sesaji dalam bentuk makanan yang lezat-lezat. Tarian ini dibawakan oleh beberapa perempuan yang dengan penampilan khusus, berbusana indah, sopan, tertib, dan lemah lembut.
Dalam perjalanannya, orientasi atau tujuan sesembahan Tari Piring bergeser drastis. Ketika Islam datang, orientasi penyajian tidak lagi tertuju pada para dewa, namun dipersembahkan kepada para raja dan pejabat, khususnya saat ada pertemuan atau forum khusus dan istimewa lainnya. Selain itu, Tari Piring juga semakin populer dan tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan elit tertentu.
Tidak cukup sampai disitu, perubahan orientasi terus dilakukan. Arti dan makna Tari Piring diartikan secara agak luas. Dalam konteks ini, raja tidak harus kepala negara atau pemimpin kekusaan politik pada rakyatnya, tapi bisa dianalogikan dengan sepasang pengantin. Sang pengantin adalah raja, yaitu “raja sehari”. Karena itulah tradisi Tari Piring kerap dipersembahkan dihadapan “raja sehari” (pengantin) saat bersanding dipelaminan dalam acara walimatul ‘arsy. 

Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang, adalah salah satu jenis Seni Tari yang berasal dari Sumatra Barat yaitu masyarakat Minangkabau disebut dengan Tari Piring karena para penari saat menari membawa piring.
Pada awalnya dulu kala Tari Piring diciptakan untuk memberi persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau Tari Piring tidak lagi untuk persembahan para dewa tapi ditujukan bagi majlis-majlis keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, Tari Piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.
Mengenai waktu kemunculan pertama kali Tari Piring ini belum diketahui pasti, tapi dipercaya bahwa Tari Piring telah ada di kepulaian melayu sejak lebih dari 800 tahun yang lalu. Tari Piring juga dipercaya telah ada di Sumatra barat dan berkembang hingga pada zaman Sri Wijaya. Setelah kemunculan Majapahit pada abad ke 16 yang menjatuhkan Sri Wijaya, telah mendorong Tari Piring berkembang ke negeri-negeri melayu yang lain bersamaan dengan pelarian orang-orang sri wijaya saat itu.

 http://tari-piring.blogspot.com/

TARI KEJEI

Tari kejei ini biasanya digunakan untuk merayakan pernikahan, khitanan, panen raya, dan kegiatan-kegiatan lain yang berbau kedaerahan. Pada saat pernikahan, pengantin pria dan wanita dianjurkan untuk mengikuti tarian ini. Pengantin berada di tengah-tengah para penari, tepatnya berada diposisi ketiga jika jumlah penarinya ada 4 orang.
Tari Kejei adalah tarian yang paling terkenal di daerah Rejang Lebong dan merupakan tarian yang sakral. Gerakan tarian ini sangatlah sederhana, dan berbeda dengan gerakan tarian pada umumnya. Gerakan tari Kejei ini tidak boleh terlalu gemulai untuk penari wanitanya, sedangkan untuk penari prianya haruslah menunjukan kegagahan. Mungkin dalam 3 kali latihan kita sudah hafal semua gerakan tarian ini.
 Tarian ini di bawakan oleh para pemuda dan pemudi yang tidak dalam satu suku. Sebelum dan sesudah menampilakan tari Kejei, di adakan ritual terlebih dahulu, yaitu pemotongan tebu hitam dan diberikan “langir” yang telah diberikan mantra oleh seorang sesepuh sebelum memulai tarian.
 Dan ada beberapa mitos yang berkembang tentang tarian ini, yaitu: penari haruslah remaja dalam keadaan perjaka dan perawan. Jika ada salah satu dari penari tidak perjaka atau perawan lagi, maka kulintang sebagai alat music pukul sederhana yang mengiringi tarian tersebut akan pecah.
Saya masih teringat cerita dari guru kesenian di SMA sekaligus sebagai pelatih penari kami. Pada saat itu beliau mencoba merubah gerakan tarian daerah tersebut dengan menambahkan dengan tarian kreasi dan diberi nama tarian Raflesia, tetapi pada saat penampilannya, salah satu penari wanita mengalami kesurupan, dan akhirnya meminta tumbal seekor ayah hitam yang dipotong kemudian diletakkan di bukit Kaba.
Bukan hanya itu, beliau juga pernah mendapatkan pengakuan dari salah satu penarinya. Setelah selesai tampil menari, dia mengaku tidak merasa melakukan gerakan-gerakan tarian, tetapi badannya terasa digerakan oleh makhluk halus. Dan ternyata wanita tersebut melanggar salah satu syarat dalam melakukan tarian ini, yaitu haruslah dalam keadaan suci.  
Dibalik misteri dari tarian ini, ternyata pada saat ini masih ada perbedaan gerakan tarian dari setiap kelompok atau sanggar tari. Walau pun pada dasarnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong telah menetapkan gerakan-gerakan yang terdapat pada tari Kejei ini.

 Alat Music Pengiring Tari Kejei

Gong, kulintang, dan redap merupakan alat music khas tradisional suku Rejang, yang dari jaman dahulu kala sudah di pakai pada music pengiring tarian sakral dan agung suku Rejang, yaitu tari kejei dengan keterangan satu buah gong, 5 buah kulintang dan satu buah redap
Ke-3 alat music tradisional tersebut sangat penting perannya dalam tarian kejei, oleh sebab itu sebelum dimulai tariannya, oleh suku Rejang gong,  kulintang, dan redap tersebut disaratkan dalam ritual te mu’un gung klintang.
Adapun music pengiring tari Kejei yang telah disepakati oleh BMA Rejang Lebong menggunakan salah satu dari tujuh lagu tarian Kejei atau gabungan dari beberapa lagu rejang yang disepakati, antara lain:
·         Ombak laut
·         Tupai melompat
·         Siamang balik bukit
·         Percang naik tebing
·         Kumbang mengharap bunga
·         Burung klating
·         Diwo menimbang anak