Selasa, 27 Mei 2014

TARI GANTAR

Tarian ini berasal dari Suku Dayak Benuaq dan Tonyooi. Tarian ini dikenal sebagai tarian pergaulan antara muda mudi dan juga untuk menyambut tamu yang datang. Tarian ini melukiskan kegembiraan dalam menanam padi.Gantar adalah sepotong bambu yang didalamnya diisi dengan biji-biji padi dan tongat panjang yang merupakan asek untuk membuat lubang ditanah saat menanam padi. Juga melukiskan keramah-tamahan suku Dayak dalam menyambut tamu yang datang ke Kalimantan Timur baik sebagai turis maupun investor dan para tamu yang dihormati kemudian diajak turut menari. Pakain yang dipakai di sebut Ulap Doyo kain tenunan asli suku Dayak Benuaq yang diambil dari serat doyo.
http://rinonakbatam.blogspot.com/2011/04/tari-gantar.html







TARI JATHILAN

Jathilan dikenal sebagai tarian paling tua di Jawa, dikenal juga dengan nama Jaran Kepang.Tarian ini mempertontonkan kegagahan seorang prajurit di medan perang dengan menunggang kuda sambil menghunus sebuah pedang. Penari menggunakan kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang yang disebut dengan Kuda Kepang, diiringi alat musik gendang, bonang, saron, kempul, slompret dan ketipung.Tarian ini pertunjukkan oleh penari yang menggunakan seragam prajurit dan yang lainnya menggunakan topeng dengan tokoh-tokoh yang beragam, ada Gondoruwo (setan) atau Barongan (singa). Mereka mengganggu para prajurit yang berangkat ke medan perang. Selain di Yogyakarta, Jathilan juga berkembang di wilayah lain seperti, Jawa Timur, Jawa Tengah, meski masing-masing menampilkan versi yang berbeda. Lakon yang dimainkan umumnya sama, seperti Panji, Ario Penangsang atau gambaran kehidupan prajurit pada masa kerajaan Majapahit.Kostum lainnya berupa seragam celana sebatas lutut, kain batik bawahan, kemeja atau kaus lengan panjang, setagen, ikat pinggang bergesper, selempang bahu (srempeng), selendang pinggang (sampur) dan kain ikat kepala (udheng) dan hiasan telinga (sumping). Para penari berdandan mencolok dan mengenakan kacamata hitam.Masyarakat lebih mengenal tarian ini sebagai sebuah tarian yang identik dengan unsur magis dan kesurupan. Pada tarian aslinya, para penari Jathilan menari secara terus-menerus sambil berputar-putar hingga salah satu dari mereka mengalami trance atau semacam kesurupan. Penari ini akan meraih apa saja yang ada di depannya, termasuk pecahan kaca, memakan rumput, mengupas kelapa dengan gigi dan adegan-adegan yang kelihatan tidak masuk akal lainnya. Penari mengunyah kaca seperti kudapan yang enak dan nikmat. Bagi sebagian penonton, adegan trance ini yang menjadi tontonan mengasyikkan

TARI KRETEK


Kabupaten Kudus yang berada di Jawa Tengah semula tampak biasa. Tak begitu banyak orang yang tahu pamor kota yang terkenal dengan gelar Kota Kretek yang tersandar padanya. Terbagi atas 9 kecamatan, 123 desa dan 9 kelurahan, menghantarkan Kota Kretek yang kaya akan beraneka ragam hal yang bisa menjadikannya populer, sedikit terabaikan dibanding kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah.Kehidupan masyarakat Kudus, Jawa Tengah, sepertinya tidak bisa dipisahkan dengan industri keretek. Hingga proses pembuatan keretek yang menjadi penggerak perekonomian Kudus itu diejawantahkan dalam bentuk kesenian, yakni tari. Agak aneh memang, mulai dari memilih tembakau, hingga bagaimana cara memasarkannya, semuanya diceritakan dalam satu tarian, tari Kretek.

TARI EBEG


http://himpalaunas.com/sites/himpalaunas.com/files/imagecache/Original/tari%20ebeg.jpg
Ebeg Merupakan salah satu bentuk tarian rakyat yang berkembang di daerah banyumas. Jenis tarian ebeg terdapat juga di luar daerah Banyumas khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan nama yang berbeda yaitu ada yang menyebut Jarang Kepang, Kuda Lumping, dan Jathilan. Di Ponorogo disebut Reog. Walaupun namanya tidak sama namun dilihat dari gerak tari dan peralatan tidak jauh berbeda.Beberapa waktu yang lalu Gubernur Jawa Tengah membuat Geger tentang kesenian ebeg. Bibit menyampaikan dalam acara yang di hadiri masyarakat indonesia bahwa kesenian jaran kepang atau di banyumas lebih di kenal ebeg merupakan kesenian terjelek di dunia. Hemm… banyak reaksi keras dari masyarakat jateng, termasuk dari kelompok kesenian ebeg banyumas. Dengan di koordinir seniman rakyat banyumas sempat mengadakan demo di kantor PEMDA kabupaten banyumas.Ternyata dari pantauan saya entah di sengaja atau tidak, banyak agenda kesenian banyumas yang di tampilkan, diantaranya dalam banyumas kernival di alun-alun banyumas dengan 3 kelompok kesenian ebeg sekaligus. Dan selang beberapa waktu berikutnya juga tampil lagi di alun-alun banyumas. Sebenarnya bagaimana sejarah ebeg banyumas. Yuk kita cari tahu lebih tentang jarang kepang banyumas.

TARI LORO BLONYO


Tari Loro Blonyo merupakan gambaran Dewi Sri dan Dewa Sadan Dewi Sri adalah Dewi Pelindung padi dan pemberi berkah dan erupakan lambang kemakmuran, Sedangkan Dewa Sadana adalah dewa sandang pangan.Dahulu Dewi Sri dan Sadana adalah lambang kemakmuran dan kesejahteraan sehingga masyarakat aman tenteram dan damai.Pada saat sekarang kedua Dewa dan dewi tersebut sudah sima dari burni pertiwi dan menetap di Tirta Kedasar. Sepeninggal Dewi Sri dan Sadana keadaan bumi pertiwi makin terpuruk Bencana dan malapetaka serta huru hara ada dimana‑mana Atas petunjuk dewa Wisnu agar keadaan aman tenteram dan makmi harus membawa kembali Dewi Sri dan Sadana.Namun hal itu tidaklah mudah karena untuk mendapatkan Dewi Sri dan Sadana harus berhadapan dengan raksasa penunggu Negara Tirta Kedasar Semar berhasil membawa Dewi Sri dan Sadana atas restu Dewa Wisnu. Dengan diboyongnya Dewi Sri dan Sadana Keadam pulih kembali Hasil Pertanian meningkat, sandang dan pangan melimpah. Untuk menghormati Dewi Sri dan SadanaMasyarakat menyampaikan ucapan syukur dengan musik kothekar lesung yang berirama ritme religius magis

TARI APLANG


Tari Aplang merupakan tari kerakyatan yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Tari Aplang merupakan suatu keksenian yang awalnya digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Oleh karena itu tari Aplang memiliki ciri khas yang tidak terlepas dari unsur islami, diantaranya iringan rebana, bedug dan beberapa syair puji-pujian yang dilakukan menggunakan bahasa Arab dan Jawa. Tari Aplang biasanya dipentaskan oleh sedikitnya lima orang penari putra atau putri sampai jumlah yang tidak bisa ditentukan. Di sebut Tari Aplang karena gerakan tari Aplang mengadaptasi gerakan silat dengan ndaplang yang dibubuhi dengan gerakan lain agar terlihat lebih indah dan luwes. Dalam perkembangannya Tari Aplang mengalami beberapa modifikasi baik dalam gerakan, kostum dans egi teknisnya. Gerakanya bersifat dinamis dan luwes sehingga terkesan menarik. Kostum Tari Aplang berupa baju putih, merah muda, biru lengan panjang dari bahan sejenis diamond yang terkesan indah dan meriah. Dilengkapi dengan topi yang dipakai pada sanggul penari, dan dilengkapi dengan slempang yang dililitkan menyamping pada badan dengan warna yang disesuaikan dengan warna hijau, juga dilengkapi dengan kain jarit yang menutupi celana tayet kira-kira setinggi lutut. Alas kaki yang digunakan yaitu gapyak yang dapat menimbulkan kesan agamis. Serta penari juga menggunakan kacamata agar terkesan lebih menarik.

TARI SENI BARONG BLORA


Sedikit ringkasan tentang Seni Barong Blora : Barongan Blora, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora. Alur cerita bersumber dari hikayat panji. Di dalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan seperti spontanitas, sederhana, keras, kompak yang dilandasi kebenaran. Kesenian barongan berbentuk tarian kelompok yang terdiri dari tokoh Singo Barong, Bujangganong, Joko Lodro/Gendruwon. Jaranan/Pasukan Berkuda, serta prajurit.Tari barongan ini diambil dari cerita Panji. Panji adalah seorang Putra Kerajaan Singosari yang menyamar sebagai pengamen. Dia mengamen dengan melakukan tari barongan. Penyamaran yang dia lakukan adalah untuk mengembara mencari kekasihnya yaitu Ayu Galuh CandraKirana. demikian sedikit ringkasan tentang Barongan Blora yang sampai sekarang menjadi ikon dari Kabupaten Blora..Kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Namun, Kabupaten Blora yang bisa dikatakan paling eksis. Bayangkan saja, dari 295 desa di Kabupaten Blora, terdapat 625 paguyuban kesenian barongan. Artinya, setiap desa minimal memiliki dua grup kesenian barongan. Apalagi, beberapa budaya tradisi mensyaratkan keterlibatan kesenian barongan di dalamnya. Tradisi lamporan ritual tolak bala yang berasal dari Desa Kunden, misalnya, mengharuskan keterlibatan barongan. Bahkan, justru Singo Barong yang dianggap sebagai pengusir tolak bala.Tak mengherankan bila kesenian barongan sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Blora. Mereka beranggapan bahwa barongan telah berhasil mewakili sifat-sifat kerakyatan mereka, seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran.