Minggu, 18 Mei 2014

TARI BEDAYO TULANG BAWANG

Kabupaten Tulang Bawang dibentuk pada tahun 1997 melalui sekretariat Persiapan Kabupaten Tulang Bawang. Penetapan ini melalui surat keputusan Gubernur No.821.2/II/09/97 tanggal 14 Januari1997 tentang penunjukan Bupati Kabupaten Tingkat II persiapan Tulang Bawang.
Kota Menggala memiliki sejarah yang sangat tua , dimana Menggala ini terkenal dengan sebutan Parisnya Lampung. Jumlah penduduk Kabupaten Tulang Bawang sampai dengan akhir tahun 2001 berjumlah 711.886 jiwa.
Tari Bedayo Tulang Bawang adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Tulang Bawang memiliki usia yang sangat tua dibandingkan dengan tarian lainnya yang ada di Menggala. Marwansyah Warganegara mengatakan, bahwa Tari Bedayo Tulang Bawang dulunya diciptakan atas permintaan Menak Sakaria dan adiknya Menak Sangecang Bumi keturunan ari puti Bulan, di kampung Tus Bujung Menggala kecamatan Tulang Bawang Udik.
Konon munculnya tari Bedayo Tulang Bawang akibat adanya wabah penyakit yang melanda kampung Bujung Menggala di masa itu. Berbagai usaha yang dilakukan pada saat itu, namun tidak kunjung hilang, selama pertapaannya menak Sakaria mendapatkan wangsit agar mengadaan upacara dan memotong kambing hitam diiringi sebuah tarian yang dibawakan penari wanita yang masih suci berjumlah 12 orang.
Ratu Dandayanti menerangkan, bahwa pada mulanya tari Bedayo Tulang Bawang disebut tari pemujaan atau penyembuh penyakit. Tarian pemujaan itu dipentaskan di candi Gughi yang disaksikan oleh banyak orang-orang di sekitar Kampung Bujung Menggala. Asal kata bedayo berasal dari kata budaya, Oleh karena itu tari Bedayo hanya terdapat di kabupaten Tulang Bawang saja.
Biasanya, kalau sudah ada kejadian yang sifatnya ghaib atau misalnya ada wabah penyakit yang melanda sebuah desa dimasa lalu, seketika masyarakat tersebut membuat penolak bala. Apakah yang digunakan itu sebuah tarian atau lainnya, yang intinya mohon keselamatan.
Dengan  adanya peninggalan adat istiadat dan kebiasaan lama, secara umum masyarakat Menggala masih percaya dengan kata-kata orang tua, baik itu berupa pantun, dongeng, legenda mitos, dan yang lainnya. Dengan demikian, cerita tari Bedayo Tulang Bawang pada saat ini masih terdengar di lingkungan masyarakat Menggala.
Untuk mengungkapkan kehadiran tari Bedayo Tulang Bawang secara pasti sangatlah sulit dicari jejak sejarahnya, karena sampai sekarang belum ditemukan data-data yang mencatat mengenai sejarah tarinya.

TARI NGURI

"Nguri berasal dari kata Guri, artinya perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut untuk menghibur sang raja yang sedang berduka atau terkena musibah," ujar Joy (36), pelatih dan penanggungjawab Kelompok Kesenian Lonto Engal dari Sumbawa.

Tari ini awalnya adalah sebuah ritual masyarakat, sebagai simbol kepatuhan rakyat kepada raja. Masyarakat datang ke istana dengan membawa segala sesuatu berupa hasil bumi, emas, permata dan lainnya, yang bisa menyenangkan hati sekaligus meringankan beban hati sang raja.

Berangkat dari tradisi ini kemudian diangkat menjadi sebuah karya tari. Kini, tari ini dimaknai sebagai simbol penghormatan dan gambaran keterbukaan serta keramah-tamahan masyarakat Sumbawa.

"Tari Nguri ini pertama kali diciptakan oleh seorang penata tari bernama Mahmud sekitar tahun 60-an. Kemudian diperbaharui lagi oleh Hasanuddin atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Kak Ace, pegawai dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Sumbawa," ungkap lelaki bermabut kribo yang mengaku sebagai murid Kak Ace ini.

Joy yang pernah masuk 10 besar penata tari tingkat nasional di Jakarta tahun 1991 dan 2000, serta sebagai penyanyi keroncong terfavorit tingkat nasional tahun 2005 ini mengatakan, tarian ini memang lebih mengedepankan gerak-gerak lembut dan ekspresi keramahan.

Hal ini tampak pada gerakan-gerakan tangan seperti lunte (mengayun tangan), jempit (gerakan sepereti memetik bunga), gitik (menggetarkan jari), sere (langkah seperti berlari kecil).

Tarian ini bisa dibawakan secara massal. Tapi, kata Joy, jika keadaan darurat, bisa dibawakan oleh tiga orang penari. Iringan musiknya terdiri dari: gong, genang (gendang), rebana kebo (rebana besar), serunai, palampong (seperti gambang), satung serek (bambu yang dipadu dengan besi).

Kini tarian ini biasanya dibawakan untuk menyambut tamu atau acara seremonial lainnya. Tari Nguri hanyalah salah satu kekayaan seni tari yang dimiliki masyarakat Kabupaten Sumbawa. Tarian lain yang dimiliki daerah ini antara lain, tari Ngumang Rame, Renteng Malino, Dadara Butu, Dila Malam.

TARI SERE

Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi dalam tiga kelompok, YaItu Tari klasik Istana atau yang dikenal dengan Mpa’a Asi, Tarian Rakyat atau Mpa’a Ari Mai Ba Asi, serta tarian Donggo. Tarian Donggo adalah tarian yang dikreasi oleh masyarakat Donggo dan ditujukkan untuk upacara-upacara Adat.
Tari Sere merupakan tari klasik Istana. Tari ini diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin, dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh – musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri).
Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini di berinama mpa’a sere , yang berarti melompat sambil berlari (sere). Tari ini diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA.
 

TARI GENDANG BELEQ

Picture Pulau Lombok yang letaknya bersebelahan dengan pulau Bali, memiliki sejumlah kesenian yang hampir mirip, diantara kedua pulau tersebut. Jika di pulau dewata Bali, ada kesenian tari Adi Merdangge, maka di Lombok ada kesenian serupa yang oleh masyarakat Suku Sasak di sebut dengan kesenian Gendang Beleq.

Kesenian Gendang Beleq sudah mengakar di Suku Sasak sejak lama dan merupakan kesenian peninggalan Kerajaan Selaparang Lombok yang menguasai sebagian wilayah pulau Lombok bagian timur pada zaman kerajaan Anak Agung. Disebut Gendang Beleq, karena menggunakan Gendang berukuran besar yang dalam bahasa sasak disebut Beleq.

Kesenian Gendang Beleq, awal masuknya di pulau Lombok, digunakan oleh para tokoh agama untuk menyebarkan islam di daerah ini. Saat itu, kesenian ini dimainkan untuk mengumpulkan warga, yang akan diberikan ceramah agama maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Untuk memainkan kesenian ini membutuhkan kekompakan dalam kelompok, sehingga harus dimainkan secara utuh. Musik yang dimainkan, tari yang ditampilkan dalam kesenian Gendang Beleq, menggambarkan jiwa satria masyarakat Suku Sasak Lombok dalam mempertahankan daerahnya.

Seperti dalam memainkan tari cemperang, yaitu memainkan dua buah alat yang berbentuk lingkaran dan dipukulkan satu sama lain. Tari ini menggambarkan bagaimana cara prajurit seharusnya membawa keris atau pedang saat di medan perang.

Pada zaman kerajaan Selaparang, biasanya tari Gendang Beleq dipentaskan untuk melepas prajurit ke medan perang. Tujuannya, agar para prajurit yang akan berlaga di medan pertempuran tetap bersemangat dan bergairah untuk membela daerahnya saat itu.

Demikian juga setelah prajurit pulang dari medan pertempuran, disambut kesenian Gendang Beleq di pintu masuk desa, sebagai rasa syukur atas perjuangan mereka.

Tradisi tersebut, kemudian dilakukan hingga saat ini. Dalam setiap event yang berskala Nasional, kesenian Gendang Beleq selalu dipentaskan untuk menyambut tamu undangan.

TARI GANDRUNG

Tari Gandrung adalah seni tari asal Lombok yang populer di kalangan suku Sasak. Tari Gandrung juga disebut dengan Jangger. Beberapa sejarahwan mengatakan bahwa tari gandrung sudah ada sejak zaman Erlangga di Jawa Timur.
Tari ini lahir dalam keadaan saat tersedia perangkat gameran untuk menghibur para prajurit yang pulang dari medan perang. Pada saat itu prajurit ingin bergembira dan bersukaria, lantas datanglah seorang wanita cantik yang menari dan mengajak para prajurit yang dikehendakinya untuk menari. Acara ini terus berlanjut dengan penari yang berganti-ganti dan mengajak satu per satu prajurit itu menari bersama. Tari Gandrung biasanya dilakukan pada sebuah arena yang dikelilingi penonton. Diantara penonton tersebut adalah sekaligus sebagai calon penari Gandrung. Dalam bahasa Sasak disebut dengan “pengibing” atau “ngibing” yang berarti menari.
Secara umum tari gandrung terdrii dari 3 bagian yakni bapangan, gandrangan dan parianom. Bapangan adalah bagian dimana penari Gandrung digambarkan sedang memperkenalkan diri kepada penonton dengan mengitari arena tempat ia menari. Selanjutnya adalah gandrangan yakni saat penari dengan gerakan lincah mengitari arena dengan kipas di tangan seperti burung elang yang mengincar mangsa. Biasanya penonton di barisan depanlah yang dilirik oleh penari, selanjutnya ia akan memilih satu penonton untuk menemaninya menari dengan cara menyentuhkan atau melemparkan kipasnya pada seorang atau lebih untuk menjadi pasangan menari. Gerakan sentuhan kipas ini disebut dengan tepekan. Bagian yang ketiga adalah parianom yakni saat tarian hanya diiringi redep dan suling, dibantu dengan suara gendang, petuk, rincik dan gong. Dalam bagian ini penari Gandrung akan melengkapi tariannya dengan nyanyian yang disebut dengan besandaran.
Penyebaran tari Gandrung di Lombok cukup merata terlihat dari berbagai aliran tari gandrung. Seperti Gandrung Bertais dari daerah Bertais dan Dasan Tereng yang masih mempertahankan keaslian tradisi tari Gandrung.
Peralatan musik yang biasanya digunakan untuk mengiringi tari Gandrung disebut dengan gamelan dengan ragam yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Nah, menariknya, pada awal dipentaskan di depan khalayak, tari Gandrung dimainkan oleh penari pria. Tetapi kemudian kini dimainkan juga oleh penari wanita. Nah, tarian ini biasanya dipertunjukkan saat musim panen. Kini Anda bisa melihatnya di desa-desa wisata yang tersebar di Lombok seperti Desa Sade.

TARI MPAA LENGGOGO

Tari Mpaa Lenggogo Nusa Tenggara Barat 300x217 Macam Macam Tarian Tradisional Indonesia
Tari Mpaa Lenggogo, sebuah tarian guna menyambut Maulid Nahi Muhammad SAW. Tarian ini juga scring dipertunjukkan pada upacara-upacara perkawinan atau upacara khitanan keluarga raja.
Tari Mpaa Lenggogo
Tari Batunganga, sebuah tari berlatar belakang cerita rakyat. Mengisahkan tentang kecintaan rakyat terhadap putri raja yang masuk ke dalam batu. Mereka memohon agar sang putri dapat keluar dari dalam batu itu.


http://mitaunair-fk12.web.unair.ac.id/artikel_detail-65756-Kumpulan%20Cerpen-TARIAN%20NUSA%20TENGGARA%20BARAT.html

TARI INDANG BADINDIN

tari indang badindin
Tari indang merupakan salah satu kesenian tari yang berasal dari minangkabau. Etnik minangkabau menyimpan banyak kekayaan tradisi lisan. Asal usul tari indang adalah dari kata Indang atau disebut juga badindin, salah satunya. Tarian ini sesungguhnya suatu bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok sambil berdendang dan memainkan rebana kecil.
Kesenian tari indang tadinya bertujuan untuk keperluan dakwah islam. Itu sebabnya, sastra yang dibawakan berasal dari salawat nabi Muhammad atau hal-hal bertema keagamaan. Indang berkembang dalam masyarakat traditional Minangkabau yang menghuni wilayah kabupaten Padang Pariaman.
Indang Badindin
Nasrul Azwar, aktivis budaya yang tinggal dipadang, menyebutkan secara historis Indang merupakan hasil perkawinan budaya antara Minangkabau dan peradaban Islam abad ke – 14. Peradaban tersebut diperkenalkan pedagang yang masuk ke aceh melalui pesisir barat Pulau Sumatra dan selanjutnya menyebar ke Ulakan-Pariaman.
Kalau dibedakan lebih dalam, dalam Tari Indang muncul jenis-jenis nyanyian maqam, iqa’at dan avaz serta penggunaan musik gambus. Maqam menggambarkan tangga nada, struktur interval dan ambitus. Iqa’at menyimpan pola ritmik pada musik islam. Adapun avaz ialah melodi yang bergerak bebas tampa irama dan diperkenalkan music islam.
Pentas Tari Indang biasa diramaikan tujuh penari yang semuanya laki-laki. Ketujuh penari itu biasa dinamai ‘anak indang’. Mereka dipimpin seorang guru yang disebut tukang dzikir. Ya, memang indang merupakan manifestasi budaya mendidik lewat surau dan kentalnya pengaruh budaya Islam di Minangkabau.